Muhammad Habil Gibran
2110322041
SENSATION AND PERCEPTION
1. SENSATION / SENSASI
Sensasi adalah proses yang terjadi saat reseptor yang ada di alat indra kita (mata, telinga, hidung, lidah, kulit) menerima ransangan dari luar dan mengubahnya menjadi sinyal saraf di otak. terubahnya rangsangan tersebut menjadi aktivitas saraf atau sinyal disebut Transduksi.
Ransangan ditangkap oleh reseptor sensorik di alat indra kita, dimana hal itu akan menyebabkan pelepasan neurotransmitter dari neuron ke neuron lain. masing-masing reseptor dirangsang oleh berbagai macam energi, contohnya reseptor sensorik di mata akan terangsang jika ada cahaya, reseptor sensorik di telinga akan terangsang oleh getaran suara, reseptor sensorik di hidung akan terangsang oleh bau dan aroma, reseptor sensorik di lidah akan terangsang oleh zat kimia, sedangkan reseptor sensorik di kulit akan terangsang oleh sentuhan dan suhu.
Namun, ada orang yang mengalami suatu keunikan dalam proses pengelolaan rangsangan, dimana sinyal yang didapatkan dari reseptor sensorik diproses di area kortikal yang salah diotak, misalnya ada seseorang yang merasakan musik itu sebagai sebuah rasa, ada juga yang merasakan bau sebagai sebuah bentuk. kejadian ini disebut Sinestesia.
setiap alat indra kita memiliki batas atau ambang minimal dimana ia dapat merasakan suatu ransangan atau stimulus, konsentrasi terendah stimulus yang dapat dideteksi oleh alat indra kita disebut Sensory Threshold, maka agar ransangan yang ada dapat terdeteksi oleh reseptor sensorik, maka rangsangan tersebut minimal harus mencapai sensory threshold agar dapat kira rasakan.
dalam mekanisme pengelolaan ransangan dan sensasi, terdapat suatu fenomena dimana otak kita akan mengabaikan suatu informasi yang didapatkan oleh reseptor sensorik kita, dimana ketika otak mendapatkan suatu informasi yang sama secara terus menerus, maka otak cenderung akan berhenti memperhatikannya karena informasi yang datang bersifat konstan, seperti suara kipas angin, karena suaranya tidak berubah maka lama kelamaan otak kita akan berhenti mengelola informasi tersebut, namun ketika suara kipas angin itu berubah, maka reseptor sensorik kita akan mendeteksinya dan otak kita mengelola informasi itu, lalu kita akan sadar bahwa suara kipas anginnya berubah. Fenomena ini disebut sebagai Habituation atau pembiasaan.
ada juga fenomena dimana reseptor sensorik kita menjadi tidak peka atau responsif terhadap suatu rangsangan. sama seperti otak, ketika suatu reseptor sensorik di alat indra menerima sebuah rangsangan yang secara konstan, maka reseptor sensorik kita cenderung tidak terlalu responsif lagi karena stimulus yang didapatkan tidak berubah, contohnya bau sampah yang menyengat di dapur, ketika pertama kali kita menciumnya, pasti akan terasa sangat menganggu, namun saat kita sudah rutin ke dapur dan menghadapi aroma busuk sampah, maka lama kelamaan kita akan merasa bahwa aroma sampah itu tidak terlalu menyengat seperti pertama kali kita menciumnya, fenomena ini disebut sebagai Adaptasi sensorik.
2. THE SCIENCE OF SEEING
Seperti yang kita tahu, reseptor sensorik di mata akan peka oleh rangsangan cahaya, maka terdapat suatu proses dimana mata mengelola ransangan cahaya yang datang.
Albert Einstein menemukan bahwa cahaya itu adalah satu rangkaian gelombang yang disebut sebagai foton, dan ia memiliki panjang gelombang tertentu. mengenai bagaimana persepsi mata kita mengenai cahaya, ada 3 aspek yang mempengaruhi yaitu :
a. Kecerahan, dimana ini ditentukan oleh sebarapa tinggi amplitudo yang dimiliki gelombang cahaya, jika gelombang semakin tinggi, semakin besar nilai amplitudo dan cahaya akan semakin terang terlihat. begitu juga sebaliknya, jika gelombang rendah, maka amplitudo juga kecil dan cahaya akan semakin redup terlihat.
b. Warna, dimana ini ditentukan oleh panjang gelombangnya. jika gelombang semakin pendek, maka warna cahaya akan bewarna semakin biru atau ungu , jika gelombang semakin panjang, maka warna cahaya akan semakin merah.
c. saturnasi, yaitu kemurnian warna yang kita lihat, dimana warna merah akan terlihat merah di mata kita karena mengandung panjang gelombang merah, namun saturnasi warna dapat berkurang ketika adanya campurang panjang gelombang, contoh warna merah dicampur dengan warna putih, maka akan terlihat pink, ini terjadi karena gelombang merah mulai tidak jenuh akibat gelombang putih yang ada.
Mengenai struktur mata sebagai indera penglihatan, terdapat bagian-bagian mata yang mengelola cahaya yang masuk, yaitu ;
a. iris, yaitu bagian yang berfungsi memberikan warna pada mata, serta membesarkan dan mengecilkan ukuran pupil untuk mengatur intensitas cahaya yang masuk
b. pupil, yaitu bagian yang berfungsi mengatur cahaya yang masuk ke mata
c. kornea, berfungsi membelokkan cahaya yang masuk untuk fokus ke arah lensa mata.
d. Aqueous humor, berfungsi untuk memberikan nutrisi pada mata.
e. lensa mata, berfungsi untuk membiaskan cahaya yang masuk dan mengfokuskannya ke retina.
d. Vitreous humor, berfungsi untuk memberikan bentuk mata agar tetap bulat dan menjaga posisi retina
e. retina, berfungsi untuk menangkap cahaya yang masuk, lalu diolah dan anda dapat melihat lingkungan sekitar dengan jelas. Di retina terdapat 3 struktur yaitu sel ganglion, sel bipolar dan sel batang serta kerucut. sel batang berfungsi untuk mendeteksi tingkat cahaya yang rendah, sedangkan sel kerucut berfungsi untuk mendeteksi warna dan ketajaman penglihatan kita. mengenai sel kerucut, terdapat teori trikomatrik, dimana sel kerucut kita ada 3, yaitu kerucut merah,biru dan hijau.
3. THE HEARING SENSE
telinga adalah indra yang bertanggung jawab dalam merespon rangsangan bunyi dengan reseptor sensorik yang ada di dalamnya. terdapat struktur telinga yang masing-masing bagian nya memiliki fungsi tersendiri
a. daun telinga, berfungsi untuk menangkap gelombang suara yang ada di sekitar.
b. saluran telinga, berfungsi untuk meneruskan gelombang bunyi ke bagian dalam telinga
c. mambran tiffany / gendang telinga, berfungsi untuk menagkap gelombang suara yang masuk dan meneruskannya ke bagian dalam telinga
d. tiga tulang pendengaran (martil, landasan, sanggurdi) berfungsi untuk meningkatkan amplitudo gelombang bunyi dan meneruskannya ke dalam telinga
e. koklea / rumah siput, berfungsi untuk mendeteksi gelombang suara yang diterima, dimana cairan dalam koklea akan bergetar akibat gelombang bunyi lalu organ corti akan terangsang dan meneruskan signal ke saraf pendengaran.
f. saluran setengah lingkaran, berfungsi sebagai alat keseimbangan (indera vestibular)
g. saraf pendengaran, berfungsi untuk meneruskan signal ke otak.
terkait bunyi yang kita dengar, terdapat 3 teori yang menjelaskan yaitu :
a. teori tempat, dimana persepsi kita terkait perbedaan dari nada suara yang kita dengar tergantung bagian sel rambut mana yang bergetar karena dirangsang oleh organ corti.
b. teori frekuensi, yaitu teori yang menyatakan bahwa seberapa keras suara yang kita dengar tergantung dari frekuensi bunyi tersebut dan seberapa cepat ia melewati mambran basilar yang ada di dalam koklea
c. teori voli, yaitu teori yang mengatakan bahwa ada proses shooting atau menembak dalam pendengaran, dimana ketika ada ransangan bunyi dengan frekuensi mencapai 4000 Hz, maka sel-sel rambut yang ada di organ corti akan melakukan gerakan menembak.
4. CHEMICAL SENSE
Selain ransangan berupa cahaya dan bunyi, ada juga alat indra kita yang peka terdapat ransangan berupa zat kimia seperti aroma dan rasa, yaitu alat indra hidung sebagai indra penciuman, dan indra lidah sebagai indra pengecapan.
a. Lidah, dimana di permukaannya terdapat kuncup pengecap yang mengandung reseptor sensorik yang peka terhadap rasa, kuncup pengecap juga ada di langit-langit mulut, rongga mulut, dan pipi bagian dalam. kuncup pengecap ini melapisi benjolan-benjolan yang ada di lidah, disebut sebagai papilla. kuncup pengecap dapat semakin peka terhadap suatu rasa jika orang itu memiliki selera yang banyak
ada 5 rasa dasar yang dapat dirasakan oleh lidah, yaitu manis, asin, pahit, asam, dan pedas. rasa pedas terjadi akibat adanya luka pada kuncup pengecap atau pun rasa panas yang membakar lidah, sehingga kuncup pengecap mengalami kerusakan dan tubuh membutuhkan waktu untuk memperbaiki kuncup pengecap yang rusak.
b. Hidung, yaitu indra yang bertanggung jawab dalam mendeteksi bau atau aroma sebagai rangsangan kimiawi. terdapat sebuah area di rongga atas hidung yang sangat peka terhadap aroma, area ini disebut sebagai area Olfaktori, walau pun area ini kecil, namun terdapat 10 juta reseptor yang akan mendeteksi aroma yang masuk, reseptor ini disebtu sebagai reseptor olfaktori. di setiap reseptor terdapat sel-sel yang mengadung silia, silia inilah yang akan meneruskan ransangan bau yang datang ke bagian sistem saraf lalu diterjemahkan menjadi signal saraf dan diolah di otak.
Reseptor olfaktori yang mendapatkan ransangan bau akan meneruskan ransangan ke Bulbs Olfaktori, yaitu bagian seperti bohlam, berlokasi di rongga sinus hidung, aroma tersebut di proses oleh saraf dan menjadi signal yang akan dikirim ke otak melewati thalamus, lalu ke bawah lobus frontal.
5. SOMESTHETIC SENSE
Berasal dari kata Soma (badan) dan Aesthetic (Perasaan) , yaitu alat indra yang terdiri dari indra kulit, indra kinestetik dan propioseptif, serta indra vestibular
A. INDRA KULIT (SKIN SENSE) yaitu reseptor yang terletak di jaringan kulit, berfungsi untuk menerima ransangan dari luar kulit.
l Rasa atau sensasi panas dan dingin
Sensasi panas dan dingin adalah dua sensasi yang berbeda dan berdiri sendiri, bersumber pada dua ujung saraf yang berbeda pada permukaan kulit. Ujung saraf Ruffini akan merasakan panas, sedangkan ujung saraf Krause akan merasakan dingin. contohnya ketika kulit kita menyentuh sebuah setrika yang menyala, maka reseptor rasa panas akan bereaksi, begitu juga sebaliknya.
l Rasa atau sensasi sakit
Saraf reseptor juga dapat mendeteksi rasa sakit, dimana ada 2 tipe rasa sakit, yaitu sakit yang berada di organ dalam tubuh atau disebut sebagai Visceral Pain, dan sakit yang berada di kulit, otot, dan sendi atau disebut sebagai Somatic Pain. Sakit yang berada di kulit, otot atau sendi adalah peringatan tubuh bahwa terdapat kerusakan yang diterima, contohnya seperti tusukan benda tajam, pukulan, dan lain-lain.
Mengenai rasa sakit, terdapat teori yang menjelaskan bagaimana rasa atau sensasi sakit bekerja dalam tubuh manusia, disebut sebagai teori Gate-Control yang dicetuskan Ronald Melzack dan Patrick Wall pada tahun 1965, lalu disempurnakan dan digunakan secara luas tahun 1996. menurut teori ini, ransangan sakit dapat dirasakan tubuh apabila signal sakit itu melewati suatu “Gate” atau gerbang di sumsum tulang belakang, gerbang ini dapat terbuka jika terdapat ransangan sakit yang diterima oleh reseptor dan dapat ditutup oleh signal yang dikirimkan oleh otak. Dapat dikatakan bahwa “the gate” atau gerbang itu adalah sebuah keseimbangan yang bersifat relatif.
Pertama, ransangan sakit yang diterima reseptor akan melepaskan suatu neuromodulator yang disebut sebagai Substansi P, lalu substansi P akan pergi ke sumsum tulang belakang dan mengaktifkan neuron lainnya, sehingga mereka akan mengirimkan signal melewati “the gate” atau gerbang menuju ke otak, lalu otak akan menafsirkan signal atau informasi tersebut dan mengirimkan signal balik ke gerbang, dimana signal tersebut dapat menutup gerbang dan akan meredam rasa sakit, atau bahkan membuka gerbang lebih lebar sehingga rasa sakit yang dirasakan akan menguat. B
Bagaimana otak memutuskan untuk mengirimkan signal yang akan menutup atau membuka gerbang itu, dipengaruhi oleh aspek kondisi tubuh, seperti rasa takut, anxiety dan cemas yang berlebihan akan menganggu kerja otak serta mempengaruhi pembebasan endorfin yang berfungsi menghalangi transmisi signal sakit ke otak dan menghambat pembebasan Substansi P
B. INDRA KINESTETIK DAN PROPRIOSEPTIF, Yaitu reseptor istimewa karena mereka berlokasi di otot, tendon dan sendi, reseptor ini akan menyediakan informasi terkait pergerakan tubuh yang terjadi, reseptor ini juga dapat meningkatkan kesadaran kita mengenai gerakan tubuh kita atau Kinesthesia. Seperti gerakan menggoyangkan kaki, dan sebagainya. Selain menyediakan informasi pergerakan tubuh, reseptor ini juga menyediakan informasi propioseptif, dimana kita akan mengetahui kemana tubuh kita bergerak atau lokasinya, contohnya saat kita menutup mata dan menggerakan tangan kita, tubuh akan tahu kemana tangan kita bergerak karena informasi proprioseptif yang ada pada reseptor.
C. INDRA VESTIBULAR : Reseptor yang terletak di bagian dalam telinga, dimana ada dua macam indera vestibular, yaitu organ Olitoth dan saluran setengah lingkaran. Organ Olitoth adalah semacam kantung kecil yang berisikan cairan, terdiri dari butiran-butiran kristal. Cairan ini akan menjadi reseptor mengenai gerakan yang kita lakukan, contohnya ketika kita menggerakkan kepala, maka butiran kristal akan menggetarkan cairan di dalam kantung lalu diterima oleh reseptor di permukaan kantung yang berbentuk seperti rambut-rambut halus, maka tubuh dapat mengetahui kemana kepala kita bergerak.
Saluran setengah lingkaran adalah tiga buah tabung berbentuk setengah lingkaran yang juga berisi cairan dan jika tabung ini berputar, maka cairan di dalam nya akan bergetar dan merangsang reseptor yang berbentuk seperti rambut halus. Terdapat 3 tabung, maka masing-masing tabung berlokasi di satu bidang gerak, seperti sumbu x, y dan z. contohnya ketika kita melakukan gerakan berputar kemudian berhenti, cairan di tabung horizontal masih berputar sehingga reseptor terus memberikan informasi bahwa tubuh kita masih bergerak, sedangkan mata telah memberikan informasi bahwa kita sudah berhenti bergerak. Ketidaksamaan pemberian informasi antara tubuh dan mata akan menyebabkan rasa pusing dan mual, hal ini sering terjadi saat perjalanan jauh dan duduk dalam waktu yang lama dalam kendaraan yang bergerak tidak teratur, atau pun ketika berolahraga dan menari. Teori yang menjelaskan hal tersebut disebut sebagai Teori Konflik Sensorik.
6. PERCEPTION
Persepsi adalah suatu fenomena dimana ketika tubuh kita menerima suatu sensasi dan diolah oleh otak, maka hasil penafsiran terkait sensasi tersebut akan menciptakan suatu makna. terdapat suatu hukum yang menjelaskan persepsi secara detail, yaitu Hukum Gestalt.
Hukum gestalt merupakan sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian suatu komponen-komponen yang memiliki hubungan, pola, dan juga kemiripan yang bersatu menjadi satu kesatuan. terdapat beberapa elemen visual yang dibutuhkan agar tubuh dapat mendeteksi suatu ransangan visual secara mudah, yaitu :
a. proximity, objek yang berdekatan cenderung kita kelompokkan dalam persepsi kita.
Terdapat berbagai macam ilusi visual yang telah ditemukan :
1. Hermann Grid
Ini adalah salah satu contoh ilusi visual, dimana ketika kita fokus pada kotak hitam, di persimpangan garis putih akan timbul sebuah kotak kecil bewarna abu-abu dan ketika kita langsung menatapnya, kotak kecil itu akan menghilang. Ini disebut sebagai Ilusi Herman.
Maka para peneliti pun mengaitkan ilusi ini dengan respon yang diberikan oleh neuron di korteks visual primer, yaitu area otak yang memberikan informasi mengenai lingkungan di sekitar kita. Neuron ini ditemukan oleh David Hubel dan Torsten Wie pada tahun 1959, mereka menemukan 3 macam sel dalam neuron tersebut yaitu simple cell, complex cell yang merespon gerakan, dan “end-stopped cell” yang merespon terhadap sudut, atau pun lengkungan. Ketiga sel ini bekerja sebagai detektor, yaitu merespon fitur atau bentuk spesifik dari stimulus yang diterima oleh mata.
Dari penelitian mengenai ilusi herman, peneliti menemukan bahwa jika tepian kotak hitam dibuat tidak lurus atau melengkung.
2. ILUSI MULLER-LYER
Ini adalah salah satu ilusi visual terkenal yang diilustrasikan oleh Muller-Lyer. Dimana terdapat dua garis yang saling sejajar, namun garis dengan sudut menghadap ke kedalam di ujungnya tampak lebih panjang dari garis yang diujungnya memiliki sudut yang mengarah ke luar. Namun jika kita lihat lebih teliti, sebenarnya kedua garis ini sama panjang, dapat dilihat di titik pertigaan garis, titik itu sejajar dengan titik di garis satu lagi.
Mengapa ketika kita melihat secara sekilas, garis yang diatas terlihat lebih panjang? Ini mengenai persepsi kita, dimana manusia zaman sekarang kebanyakan tinggal di bangunan atau gedung. Bangunan memiliki sudut, ketika seseorang berada di luar bangunan, maka sudut akan mendekati kita dan dindingnya menjauhi kita (seperti sudut di garis bawah) namun saat kita di dalam bangunan atau ruangan, maka sudut akan menjauhi kita dan dindingnya mendekati kita (seperti sudut di garis atas) , maka dalam pikiran manusia, sudut yang menghadap keluar (garis terlihat meregang ke kiri dan kanan) terlihat seperti sudut di dalam bangunan, dan sudut yang menghadap kedalam terlihat seperti sudut di luar bangunan (Enns dan Coren 1995, Gregory, 1990)
3. ILUSI GERAKAN
Terkadang mata kita dapat menangkap suatu benda atau objek yang diam terlihat bergerak, contohnya dalam flip-book, beberapa gambar dilukiskan di kertas yang berbeda-beda, ketika lembaran kertas itu di buka secara cepat, maka akan muncul ilusi gambar bergerak. Contoh lain adalah dalam Stroboskopik, dimana serangkaian gambar yang diam, ketika digerakkan cepat, gambar-gambar itu tampak bergerak. Bagaimana ini bisa terjadi?
Ada pendapat yang menjelaskan bahwa ilusi ini terbentuk jika segala faktornya mendukung, seperti pencahayaan gambar, warna dan susunannya, hingga waktu yang berjalan begitu cepat menyebabkan otak tidak dapat memproses gambar satu persatu atau pun informasi yang di dapat.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI VISUAL
Dari beberapa contoh ilusi visual diatas, peneliti memberikan pendapat bahwa ilusi dapat terjadi karena fungsi unik yang ada dalam sistem visual kita dalam memproses informasi yang diterima, ada juga yang mengatakan bahwa gerakan mata adalah faktor utama untuk ilusi bisa terbentuk, dimana ketika para ahli meneliti gerakan mata beberapa peserta yang digunakan dalam menyelidiki persepsi peserta mengenai ilusi yang sama, para ahli menemukan bahwa ada nya peningkatan aktivitas otak di area visual yang sangat sensitif terhadap gerakan, hal ini membuktikan bahwa gerakan mata memainkan peran penting dalam terbentuknya persepsi ilusi ( Kuriki et al. 2008)
Faktor lain adalah dari pemahaman masing-masing individu, terkadang manusia dapat salah dalam memahami suatu hal, kecenderungan orang untuk mempersepsikan sesuatu dengan cara dan pengalaman yang mereka miliki disebut sebagai set perseptual, dan hal itu dapat membawa ke jalan yang salah, karena apa yang kita lihat tergantung pada apa yang kita harapkan atau inginkan untuk dilihat, maka mari belajar mengidentifikasi sesuatu yang terlihat tidak jelas.
Comments
Post a Comment