Nama : Muhammad Habil Gibran

NIM   : 2110322041

Kelas : B


Psychology : The Experiment

Pada tahun 1795, seorang astronom yaitu Nevil Maskelyne dan asistennya David Kinnebrook memperdebatkan mengenai hasil pengamatan mereka terhadap kecepatan bintang melalui teleskop, dimana mereka mencatat hasil yang berbeda, sehingga mereka berkesimpulan bahwa ada yang error pada bagian teleskop kala itu. 

Pada awal abad 18, Friedrich Bessel meneliti hal terkait pengamatan Maskelyne dan Kinnebrook, ia menemukan bahwa bukan teleskop lah yang error atau bermasalah, namun ini semua terjadi karena perbedaan individu dan waktu reaksi (time reaction), setiap manusia memiliki watak, atau karakter yang berbeda, ini disebut sebagai perbedaan individu

Waktu reaksi adalah interval atau momen antara stimulus tiba dan tubuh merespon stimulus itu, karena Maskelyne dan Kinnebrook memiliki time reaction yang berbeda, maka kecepatan mereka dalam bereaksi terhadap stimulus tentu berbeda sehingga mereka mencatat hasil yang berbeda.

Penelitian terkait stimulus juga diamati oleh Newton, dimana ia bertanya-tanya mengapa hal yang kita lihat tidak sesuai dengan kenyataan, atau relasi antara Discrepancy dan Reality, contohnya adalah warna putih, dimana di mata kita, hanya satu warna yang tertangkap sedangkan putih sebenarnya adalah gabungan dari semua spektrum warna 

Tidak hanya Newton, Van Musschenbroek pada tahun 1760 juga mengamati hal yang sama, dimana ia melakukan eksperimen dengan memberikan warna pada piringan berputar dengan porsi sama, ketika piringan itu berputar, warna biru dan kuning yang berada di piringan berubah menjadi abu-abu dalam pengamatan mata kita, terlihat jelas bahwa apa yang kita lihat tidak sesuai dengan kenyataannya, hal ini terkait bagaimana saraf dan tubuh kita mengolah suatu stimulus.

Tokoh-tokoh yang terkenal terkait pemikirannya mengenai stimulus :

1. Johannes Muller (1801 - 1858)

    Muller berpendapat bahwa tiap manusia memiliki jenis saraf sensorik tersendiri, dan hal ini mempengaruhi bagaimana seseorang menanggapi suatu stimulus, menghasilkan sensasi yang khas dan berbeda dengan orang lain, contohnya dalam mendengar, tiap orang memiliki saraf sensorik pendengaran dengan tipe tersendiri, maka ketika sekelompok orang mendengar suatu suara, sensasi yang dihasilkan akan berbeda dari masing-masing orang.

Ia juga menyampaikan teori Adequate Stimulation, disini Muller menjelaskan bahwa jika orang memiliki irritabilitas tersendiri, yaitu kepekaan dan kesensitifan terhadap suatu stimulus dan ransangan, maka orang itu memerlukan stimulus yang sesuai agar dapat diolah dengan benar oleh tubuh dan sarafnya. Maka dari itu, jika kita ingin memahami bagaimana sensasi-sensasi itu bisa timbul dalam tubuh, pelajarilah bagaimana struktur dan kerja sistem saraf pusat tubuh kita.

2. Hermann Von Helmholtz (1821 - 1894)

disini Helmholtz berpendapat bahwa untuk memahami bagaimana manusia itu tidak hanya memerlukan proses fisika dan kimia saja dalam pandangan manusia adalah mesin, karena hidup dan manusia itu adalah sistem yang kompleks dan saling berkesinambungan, intinya ialah banyak hal yang kita butuhkan jika ingin memahami manusia, mulai dari jiwa, mental, dan semacamnya.

Ia juga membahas mengenai kekekalan energi, dimana energi tidak dapat dimusnahkan, ia tidak dapat hilang, namun bisa mengalami perubahan bentuk, contohnya ketika kita bernapas, Oksigen yang dihirup diubah bersama sari-sari makanan menjadi energi dan karbon dioksida, ini adalah bentuk perubahan energi.

Pemikirannya yang lain adalah suatu persepsi yang muncul dalam diri kita adalah hal yang timbul dari masa lalu kita, dimana tubuh kita merespon suatu kejadian yang sama dan memperoleh stimulus yang sama dari masa lalu sehingga menimbulkan persepsi yang terus timbul, contohnya jika kita di masa lalu pernah mengalami peristiwa berupa sambaran petir, maka ketika kita mengalami hal yang serupa di masa sekarang, maka persepsi dari masa lalu akan kembali timbul dalam tubuh, yaitu rasa takut atau cemas.

Terkait bagaimana kecepatan saraf dalam merespon suatu stimulus, Helmholtz berkata bahwa itu bisa diukur dengan memanfaatkan kepekaan saraf motorik pada otot, karena otot memiliki tingkat kesensitifan tinggi dalam bereaksi terhadap suatu stimulus, semakin dekat saraf motorik pada otot, kecepatan stimulus bergerak dalam saraf juga semakin cepat, Helmholtz melakukan percobaan dan mendapatkan bahwa kecepatannya adalah 50,3 - 100,6 meter per detik, kepekaan dan kemampuan saraf motorik pada otot ini disebut Konduksi Saraf.

Helmholtz juga menyampaikan pemikirannya terkait bagaimana saraf kita dalam merespon warna dan cahaya, ia berkata bahwa tubuh kita memiliki 3 reseptor warna yaitu merah, biru, dan hijau dimana 3 warna itu adalah warna primer, tiap reseptor memiliki energi spesifikasi masing-masing, ketika mata kita melihat warna selain primer, itu adalah kombinasi antara reseptor warna pada mata kita.

Ia juga berkata bahwa pendengaran bukanlah sekedar alat indera, namun ia adalah sistem yang kompleks, terdiri dari berbagai saraf dan reseptor, sehingga manusia dapat mengenali berbagai jenis suara.

3. Ewald Hering (1834 - 1918)

Disini Hering menjelaskan hal yang sama dengan apa yang Helmholtz teliti yaitu terkait persepsi warna yang kita lihat, jika menurut Helmholtz mata kita memiliki 3 reseptor yaitu merah, biru, hijau dan masing-masing nya peka terhadap warna yang telah ditentukan, maka Hering berkata bahwa satu reseptor itu sebenarnya peka terhadap dua warna, alias memiliki dua kutub, ia berkata bahwa merah berpasangan dengan hijau, biru berpasangan dengan kuning, dan hitam berpasangan dengan putih, ketika kita melihat warna selain itu, artinya dua reseptor warna pada mata kita bereaksi dalam waktu yang sama sehingga menghasilkan perpaduan warna. Jika ketiga reseptor memiliki stimulus yang sama kuatnya, maka persepsi yang timbul adalah warna abu-abu. 

Ia juga menjelaskan fenomena After Image, yaitu ketika reseptor warna kita melihat warna dalam waktu yang lama, maka itu dapat mengaktifkan reseptor warna lain yang berpasangan dengannya, contohnya ketika mata kita menatap warna merah dalam beberapa menit, lalu kita alihkan pandangan kita ke warna putih secara spontan, maka warna merah tadi akan berubah menjadi hijau dalam pandangan kita, karena reseptor hijau ikut teraktifkan.

Hering juga menjelaskan kemampuan retina mata kita, dimana retina dapat menghasilkan 3 reaksi saat menerima suatu stimulus, yaitu ketinggian, posisi, dan kedalaman, Hering berkata bahwa itu semua adalah bawaan atau sudah sifat otomatisnya sebuah retina pada mata.


Setelah penelitian terkait itu, mulailah berkembang penelitian tentang fungsi otak dan melahirkan tokoh-tokoh lain yaitu :

1. Franz Joseph Gall (1758 - 1828)

Ia berpendapat bahwa ketika suatu bagian otak aktif digunakan, akan timbul suatu benjolan pada tengkorak itu, contohnya bagian otak A adalah kemampuan A, dan bagian otak B adalah kemampuan B. Namun, penelitian Gall kala itu menuai kritikan karena ia harus menggunakan otak manusia asli dan menelaahnya dimana saat itu tidak dilegalkan oleh pemerintah, sehingga hasil kesimpulan Gall diragukan, karena metode dan eksperimennya tidak dapat dipastikan.

2. Pierre Flourens (1794 - 1867)

Disini Flourens juga melakukan penelitian otak secara berkala dan menemukan fungsi korteks otak yang bekerja secara keseluruhan.

3. Paul Broca (1824 - 1880)

Broca meragukan hasil penelitian Flourens dan melakukan eksperimen. Ia  berkesimpulan bahwa semakin besar ukuran suatu otak, maka orang itu semakin cerdas, ia menarik kesimpulan itu setelah menelaah otak manusia secara besar besaran mulai dari laki-laki dan perempuan, orang kulit putih, orang kulit hitam, dan semacamnya, namun sekarang teori Broca sudah banyak ditinggalkan karena tidak dapat dipastikan kebenarannya, karena banyak orang dengan ukuran otak kecil namun cerdas. 

Salah satu hasil penelitiannya yang lain adalah ia menemukan area di hemisfer otak kiri yang berperan dalam artikulasi bicara, dan dinamakan sebagai area Broca, lalu Carl Wemicke (1848 - 1905) menemukan area lain dekat area Broca yang berperan dalam pemahaman bicara manusia, lalu dinamai sebagai Area Wemicke. 


Era kebangkitan Eksperimen Psikologi

1. Ernst Heinrich Weber (1795 - 1878)

Ia melakukan penelitian pada indera peraba dan kinestetik, dimana ia bertanya apakah tubuh kita dapat menyadari bahwa ia menerima dua stimulus dalam waktu yang sama? Weber melakukan eksperimen dan menemukan bahwa ada jarak tertentu yang diperlukan antar stimulus yang diterima untuk menyadarkan tubuh bahwa ada dua stimulus yang berbeda, jika diluar jarak itu, maka tubuh akan menganggap bahwa dua stimulus itu adalah satu stimulus saja.

2. Gustav Theodor Fechner (1801 - 1887)

Disini Fechner berkata bahwa bagaimana tubuh kita merangsang stimulus, itu tergantung pada magnitude atau kekuatan stimulus yang diterima, contohnya dalam menyadari perubahan suara, maka ada magnitude tertentu yang diperlukan tubuh untuk menyadari itu, ketika kita di tempat sunyi di perpustakaan, maka ketika ada suara buku, maka tubuh kita akan mudah mendeteksi perubahan suara, namun jika di tempat yang ribut seperti pesta, maka magnitude stimulus juga lebih besar diperlukan akan tubuh kita menyadari perubahan suara.

Comments

Popular posts from this blog